Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntrySep 29, '07 4:14 AM
for everyone

Mati Ngerokok

Semasa belajar di Mesir, Gus Dur punya teman asal Aceh, namanya Yas. Kamar mereka bersebalah. Orang ini, tutur Gus Dur, betul-betul perokok berat. Kemana pun dia pergi, pasti di kantongnya selalu terselip dua bungkus rokok. Satu sudah dibuka, satu lagi buat cadangan.

“Bagi dia, ngerokok itu jangan sampai ketelatan,” tutur Gus Dur. “Makanya si Yas selalu bawa dua bungkus.”

Saking sayangnya pada temannya ini, Gus Dru menasihatinya. “Yas, apa kamu enggan pernah baca tulisan di Majalah bahwa tiap satu batang rokok itu bisa memendekkan umur 30 detik.”

“Saya belum baca,” sahut Yas.
“Lho, kamu ini gimana. Sekarang coba hitung sudah berapa ribu batang yang kamu habiskan. Sudah berapa tahun umurmu diperpendek oleh rokok itu.”

Sambil menyulut sebatang lagi, Bung Yas menimpali, “Ya, tapi kalau saya enggak merokok, besok saya bisa mati.”

Tukang Santet Jakarta

Main hakim sendiri seakan sudah dianggap normal oleh masyarakat kita. Pelakunya bukan Cuma rakyat biasa, tapi sering justru aparat yang berwenang. Paling tidak penghakiman dilakukan di depan aparat. Sampai-sampai Majalah Tempo, jauh sebelum dibredel, pernah “menghitamkan” beberapa halamannya sebagai tanda prihatin.

Para pembaca Tempo tentu kaget dan heran. Bermacam dugaan pun segera muncul. Gus Dur termasuk yang heran dan menduga-duga. “Mengapa Tempo dibuat hitam seperti itu?”  tanya Gus Dur dalam “kuis imajiner”-nya.

“Karena reportase soal tukang santet dan bromocorah Jember.” “Siapakah yang memerintahkan penghitaman itu?” “Tukang santet dan bromocorah Jakarta.”


Airport Abdurrahman Wahid

Pada akhir April 2000, Gus Dur sempat ke Malang, dan mendarat di Bandara Abdurrahman Saleh. Ini mengingatkan dia pada peristiwa belasan tahun silam, ketika dia mendarat di bandara yang sama dari Jakarta, saat masih ada penerbangan regular dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Malang.

Waktu itu Gus Dur bersama antara lain Almarhum Jaksa Agung Sukarton Marmosujono. Sebagaimana lazimnya untuk rombongan orang penting, mereka pun disambut oleh pasukan Banser NU.

Ketika rombongan sudah siap berangkat ke Selorejo, sekitar 60 kilometer dari bandara, petugas Banser melaporkan pada posko melalui handy talky.

“Halo, halo, rojer,” kata Mas Banser. “Lapor: Abdurrahman Saleh sudah mendarat di airport Abdurrahman Wahid!”


Gus Dur Ngelu

“Saya mau tanya sama Pak Permadi dan para hadirin,” kata Sutradara Film Garin Nugroho dalam wayangan itu. Biasanya, tokoh-tokoh baik itu kalau situasainya susah pada berubah semua. Petruk, misalnya, ketika mau jadi raja tiba-tiba berubah wataknya.

Permadi yang ditanya, Gus Dur yang menjawab. Dia membenarkan bahwa watak Petruk berubah ketika dia mau menjadi raja. “Makanya, kalau mencari pemimpin mestinya yang tak gampang berubah,” tambah Gus Dur.

“Kalau menurut Pak Permadi, Gus Dur itu berubah tidak?” celetuk Tedjo.
“Ya, agak berubah,” jawab Permadi.
“Misalnya dalam hal apa?”
“Misalnya, kalau dulu Gus Dur itu masih suka kumpul-kumpul dengan saya, sekarang hampir tidak pernah lagi.”
“Kalau itu sih sebabnya sederhana,” sahut Gus Dur.
“Sederhana bagaimana Gus?” kejar Tedjo.
Ngelu (pusing).”


Anggur Mukti Ali

Pada kunjungan keliling Eropa Februari 2000, Gus Dur ketemu para kepala negara/pemerintahan. Dia antara lain ketemu Presiden Prancis Jacques Chirac. Untuk mencairkan suasana, seperti biasa, dia memasang jurus ampuhnya: humor. Dan tentu saja guyonan yang dipilihnya adalah yang sedikit banyak ada sangkutannya dengan tuan rumah.

Menurut Gus Dur, pada tahun 1970-an di Indonesia mulai diupayakan dialog antaragama. Penggagasnya adalah Prof Mukti Ali, waktu itu menteri agama.

”Saya sangat setuju dengan prinsipnya, tapi tidak setuju dengan contoh yang diberikan Mukti Ali,” ujar Gus Dur.

”Mengapa?” tanya Presiden Chirac, mulai heran.

”Menurut Mukti Ali, semua agama itu sama saja, sama bagusnya, sama luhurnya. Ini saya setuju. Tapi dia memberi contoh dengan menyebut anggur. Ini saya tidak setuju. Sebab, kata Mukti Ali, agama-agam itu seperti anggur. Bisa dimasukkan ke gelas yang pendek, yang lonjong, yang bulat dan sebagainya, tapi isinya sama saja: anggur.”

”Lho, mengapa Anda tidak setuju?” tanya Chirac, belum paham juga.

”Sebab anggur itu macam-macam, wadahnya juga macam-macam. Tidak bisa sembarangan.”

”Ya, betul, betul,” kata Chirac sambil tertawa. ”Saya tahu benar tentang hal itu, sebab saya orang Prancis.”

Lalu, tambah Gus Dur kepada Jaya Suprana (talk show di TPI): ”Pak Mukti Ali nggak ngerti soal itu, wong dia nggak pernah minum anggur.”

Gus Dur sendiri ngerti. Apakah itu artinya dia pernah atau malah sering minum anggur? Jaya Suprana tidak menanyakan hal itu.

Gak Boleh Pesawat, Ya Kereta

Gus Dur pantas dijuluki mantan Presiden Indonesia paling aktif. Bagaimana tidak? Sehari dia bisa menjelajahi separuh NKRI. Subuh ada di Jakarta, Dzuhur di Makassar, Maghrib sudah di Jakarta lagi. Atau Subuh di Jakarta, dua jam kemudian ceramah di Surabaya, Gresik atau Sidoarjo, jam 11 siang sudah kembali ke kantornya di gedung PBNU Jakarta.

Tentu saja, cepatnya mobilitas Gus Dur itu berkat ditemukannya teknologi modern yaitu pesawat terbang. Jika pencipta pesawat terbang Wright Bersaudara masih hidup, mungkin mantan Ketua Umum PBNU ini akan mertamu untuk menyampaikan kekagumannya.

Kemungkinan itu bukan tidak mungkin. Akibat kekagumannya, pernah saat mengunjungi Brasil di tahun 2000, Gus Dur berniat mertamu ke rumah tokoh pendidikan dunia yang dikaguminya: Pastor Dom Helder Camara. Namun sayang, Pastor Camara sudah wafat beberapa bulan sebelum Gus Dur datang.

Kembali ke pesawat terbang. Burung besi itu bagai rumah Gus Dur ketiga, setelah kediamannya dan mobil yang mengantarnya kluyuran. Sebagian besar waktunya dihabiskan di ketiga tempat itu.

Karenanya, sembuh dari sakit yang mengharuskan Gus Dur ngamar 2 minggu di dua rumah sakit, dokter pun mengeluarkan travel warning: “Gus Dur tak boleh naik pesawat”. Maksud dokter sih, ‘menghadang dengan cara halus’ mobilitas yang melelahkan sang tokoh demokrasi itu, agar paling jauh Gus Dur cuma sampai Bogor. Soalnya kalo Gus Dur langsung dilarang, dia akan bilang; “wong saya gak pa-pa kok.” Jadi digunakanlah alasan tadi. Gus Dur pun berjanji akan mematuhinya.

Syahdan, datanglah undangan ceramah ke Surabaya pada Sabtu (13/8/2005). Gus Dur menyambut gembira undangan itu, karena itu adalah kesempatan untuk bertatap muka dengan umatnya. Dokter mencium rencana itu, Gus Dur pun diingatkan soal larangan naik pesawat.

“Iya Pak Dokter…,” kata Gus Dur menepati janjinya.

“Bagus…,” kata dokter. Belum usai tarikan napas lega sang dokter, Gus Dur menimpali:

“Tapi saya sudah punya tiket kereta.”

 

O brolan Presiden

 

Saking udah bosannya keliling dunia, Gus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Perancis terbang bersama Gus Dur buat keliling dunia. Boleh dong, emangnya AS dan Perancis aja yg punya pesawat kepresidenan. Seperti biasa...
setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: "Wah kita sedang berada di atas New York!"

Presiden Indonesia (Gus Dur): "Lho kok bisa tau sih?"

"Itu.. patung Liberty kepegang!", jawab Clinton dengan bangganya.

Ngga mau kalah presiden Perancis, Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. "Tau nggak... kita sedang berada di atas kota Paris!", katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: "Wah... kok bisa tau juga?"

"Itu... menara Eiffel kepegang!", sahut presiden Perancis tersebut.

Karena disombongin sama Clinton dan Chirac, giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat...
"Wah... kita sedang berada di atas Tanah Abang!!!", teriak Gus Dur.

"Lho kok bisa tau sih?" tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur itu kan nggak bisa ngeliat.

"Ini... jam tangan saya ilang...", jawab Gus Dur kalem.

 

Kebesaran PM Churcill

 

Cerita lain dari Gus Dur yang membuat Clinton terbahak-bahak adalah tentang PM Inggris Winston Churcill dan pemimpin oposisi Clement Atlee.

Atlee itu tokoh Sosialis Internasional, dan terkenal gigih memperjuangkan nasionalisasi industri dan perusahaan-perusahaan besar di Inggris. Suatu hari, tutur Gus Dur, seusai sidang parlemen, PM Churcill pergi ke toilet untuk buang air kecil. Atlee pun masuk ke toilet yang sama, maka bertemulah keduanya disana.

Sambil buang air kecil, dengan wajah cemberut Churcill bilang pada Atlee:"Jangan lihat-lihat ya! kamu kan sukanya menasionalisasi yang besar-besar ... !"

 

Menebak usia mumi

 

Ini cerita Gus Dur beberapa tahun yang lalu, sewaktu jaman orde baru . Cerita tentang sayembara menebak usia mumi di Giza, Mesir . Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli paleoantropologinya yang terbaik . Tapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman orde baru yang waktu itu masih bergaya represif misal banyaknya penculikan para aktivis . Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel .

Tim Perancis tampil pertama kali, membawa peralatan mutakhir, ukur sana ukur sini, catat ini dan itu, kemudian menyerah tidak sanggup . Pakar Amerika perlu waktu yang lama, tapi taksirannya keliru . Tim Jerman menyatakan usia mumi itu tiga ribu dua ratus tahun lebih sedikit, juga salah . Tim Jepang juga menyebut di seputar angka tersebut, juga salah .

Giliran peserta dari Indonesia maju, Pak Komandan ini bertanya pada panitia, bolehkah dia memeriksa mumi itu di ruangan tertutup .

"Boleh, silahkan," Jawab panitia .

Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringat pak komandan itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri .

"Usia mumi ini lima ribu seratus dua puluh empat tahun tiga bulan tujuh hari," Katanya dengan lancar, tanpa keraguan sedikit pun .

Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum . Jawaban itu tepat sekali ! Bagaimana mungkin pakar dari Indonesia ini mampu menebak dengan tepat dalam waktu sesingkat itu ? hadiah pun diberikan . Ucapan selamat mengalir dari para peserta, pemerintah Mesir, perwakilan negara-negara asing dan sebagainya dan sebagainya . Pemerintah pun bangga bukan kepalang .

Menjelang kembali ke Indonesia, Pak komandan dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel .

"Anda luar biasa," kata mereka . " Bagaimana cara anda tahu dengan persis usia mumi itu?"

Pak komandan dengan enteng menjawab,"saya gebuki, ngaku dia ."

 

 

Guyon dengan Fidel Castro

Nah ini yang jadi guyonan Gus Dur sewaktu masih menjadi Presiden RI saat berkunjung ke Kuba bertemu Pemimpin Kuba , Fidel Castro .

Saat itu , Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap selama di Kuba . Dan mereka pun terlibat pembicaraan hangat , menjurus serius . Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan , Gus Dur pun mengeluarkan jurus andalannya , yaitu guyonan .

Beliau bercerita pada Pemimpin Kuba , Fidel Castro , bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel . Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan disitu . Tahanan pertama bercerita " Saya dipenjara , karena saya anti dengan Che Guevara " . Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba .

Tahanan kedua berkata geram ," Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara !" .Lalu mereka berdua terlibat perang mulut . Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya . " Kalau kamu kenapa sampai dipenjara disini " tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga .

Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati ," Karena saya Che Guevara !" .
Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak mendengar guyonan Gus Dur tersebut

 

Kemenangan Korsel Berkat Dukungan Saya ..

Ternyata kemenangan Korea Selatan (Korsel) atas Italia di babak perdelapan final piala dunia hari Selasa, 18 Juni 2002 kemarin tidak terlepas dari adanya dukungan moril dari Kyai .

Salah seorang Kyai di daerah Jawa timur, yang tidak mau disebutkan namanya menyatakan bahwa dia senantiasa berdoa atas kemenangan demi kemenangan tim sepak bola dari negeri Gingseng tersebut.
Bahkan doa-doa khusus pun dilayangkan demi kesuksesan salah satu tim wakil Asia tersebut. Fakta ini mengundang tanda tanya besar, kira-kira atas dasar apa Kyai tersebut dengan semangat memberikan dukungannya kepada Tim Korsel.

Atas dasar sesama Asia? atau atas dasar hubungan baik dua negara sewaktu Gus dur masih menjabat Presiden RI?
"Ah...tidak juga", jawab sang Kyai,
"sederhana saja, pelatih Korselkan orang kita juga ...
GUS Hiddink"

 

Obrolan Gus Dur di Hari Jumat

TAMU yang diterima Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di ruang kerjanya di Istana Merdeka, Jumat ayng lalu antara lain Mohammad Sobary (Peneliti dari LIPI dan kolumnis) dan Djohan Effendi (Kepala Litbang Departemen Agama).
Hampir sepanjang hari Gus Dur berbincang-bincang dengan kedua sahabatnya tersebut. Sobary sempat menjadi moderator ketika berlangsung dialog antara Gus Dur dengan masyarakat seusai shalat Jumat di Masjid Baiturrahim (Masjid Istana Kepresidenan).

Sobary lantas mengulang cerita Gus Dur tentang hal lucu yang terjadi di sekitar Gus Dur selama masa istirahat kemarin. Katanya, sebelum shalat Jumat, Gus Dur dari ruang kerjanya menelepon Menteri Agama di kantornya. Kebetulan yang mengangkat telepon di kantor Menteri Agama adalah seorang staf menteri. Dialognya demikian:

GD: "Hallo, saya mau bicara dengan Menteri Agama."
Staf Departemen Agama (SDA): "Ini siapa?"

Gus Dur: "Saya Abdurrahman Wahid."
SDA: "Abdurrahman Wahid siapa?"

Gus Dur: "Presiden......"

Mendengar dialog ini, Sobary tertawa.

 

Dua Gus Musuh Orba

Di kalangan Nahdliyin, Gus adalah julukan bagi anak kiai yang mereka hormati . Panggilan hormat itu tetap melekat, bahkan sampai si anak sudah jadi bapak atau kakek . Begitulah, menurut Gus Dur, ada Gus Nun, Gus Mus, dan lain-lain-anpa menyebut diri sendiri .

Lain sikap hormat kalangan nahdliyin, lain pula pandangan pemerintah ORBA . Yang terakhir ini tak suka dengan para Gus itu, terutama yang kritis terhadap kekuasaan. Kekritisan Gus Dur terhadap pemerintah Orde Baru mengakibatkan ia "dikucilkan." Gus Nun sering ngomong pedas, maka dianggap musuh pemerintah juga .

Tapi , kata Gus Dur, di acara jamuan makan malam bersama tamu-tamunya, sebenarnya ada satu 'Gus' lagi yang tidak disukai pemerintah .

Para tamu pun penasaran, dan menunggu Gus siapa lagi gerangan yang dimaksud .

"Gusmao...," ungkap Gus Dur menyebut nama belakang Kay Rala Xanana (sekarang Presiden Timor Leste), pemimpin Fretilin yang saat itu masih di penjara .

 


harkinz wrote on Nov 17, '07
Trims, saya suka joke-jokenya Gus Dur.
muhta14 wrote on Jun 19, '09
he he...
ahmadabdulhaq wrote on Dec 31, '09
Selamat jalan, Gus :'(
Add a Comment